Minggu , 22 April 2018
Home / Investasi / Infrastruktur / Bagaimana Cara APRIL Mengelola Hutan Tanaman Dengan Konsep Berkelanjutan?

Bagaimana Cara APRIL Mengelola Hutan Tanaman Dengan Konsep Berkelanjutan?

APRIL Group merupakan salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Bagi mereka, hutan tanaman seperti jantung perusahaan. Karena sedemikian penting, APRIL mengelolanya dengan serius menggunakan konsep berkelanjutan.

Mengapa hutan tanaman berarti vital bagi APRIL Indonesia? Alasannya sangat sederhana. Dari sana APRIL Asia mampu mendapatkan suplai bahan baku. Nanti pohon yang ditumbuhkan di sana dimanfaatkan menjadi pulp dan kertas yang menjadi produk perusahaan.

Untuk memastikan proses produksi terus berlanjut, APRIL Group mengelola hutan tanaman seluas 480.000 hektare. Di sana mereka menanam tiga jenis pohon, yakni Acacia mangium, Eucalyptus, dan Acacia crassicarpa sebagai bahan baku pulp dan kertas.

Dalam pengelolaan hutan tanaman, APRIL menggunakan prinsip berkelanjutan. Mereka mengoperasikannya di bawah Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan atau Sustainable Forest Management Policy (SFMP).

Ada beragam langkah yang diambil APRIL Group dalam mengelola hutan tanaman dengan konsep berkelanjutan. SFMP mengharuskan mereka untuk menanam di luar kawasan Nilai Konservasi Tinggi dan Stok Karbon Tinggi. Ini telah dilakukan dengan baik oleh APRIL.

Selain itu, APRIL  Indonesia memastikan tidak ada proses deforestasi dalam mendapatkan bahan baku. APRIL Group tidak akan mengambil bahan baku dari hutan. Hal serupa diterapkan kepada para pemasoknya. Langkah ini ditegaskan oleh APRIL Asia sejak 15 Mei 2015.

Di dalam SFMP juga terdapat kewajiban untuk menyisakan area untuk konservasi. Ini pun dilaksanakan dengan baik oleh APRIL Group. Mereka tidak mengambil semua area konsensinya yang seluas 1 juta hektare menjadi hutan tanaman. Sebaliknya, APRIL Group malah hanya memakai sekitar separuhnya.

Padahal, aturan pemerintah memperbolehkan 70 persen area konsesi dipakai sebagai hutan tanaman industri. Sisa sepuluh persen untuk konservasi, serta 20 persen lainnya diperuntukkan bagi masyarakat.

Namun, APRIL menyisakan 27 persen kawasan konsesinya sebagai area konservasi. Sisa 23 persen lainnya justru dibuka bagi masyarakat untuk dimanfaatkan.

Langkah ini berkaitan dengan pengelolaan lahan gambut. APRIL tidak membuka hutan tanaman baru di sana. Bahkan, mereka mendukung salah satu program pemulihan ekosistem lahan gambut, yakni Restorasi Ekosistem Riau.

Dalam hutan tanaman industrinya, APRIL menggunakan konsep ring plantations. Ini adalah konsep penanaman melingkar untuk menjaga kawasan konservasi tetap lestari.

Di bagian luar, APRIL Group menanam pohon produktif seperti akasia yang berfungsi sebagai zona penahan. Di sini warga bisa mengambil manfaat ekonomi dari pepohonan tersebut. Diharapkan ini akan membuat orang tidak akan masuk merangsek ke dalam area konservasi.

Kebijakan SFMP juga mengarahkan APRIL untuk mengurangi jejak karbon. Maka, APRIL Group akan terus meningkatkan efisiensi bahan baku dan energi di seluruh rantai pasokan dan mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan.

Wujud nyatanya adalah pemakaian energi terbarukan yang digunakan dalam operasi APRIL Indonesia. Dengan jeli, APRIL Asia mampu mengubah limbah cair berupa lindi atau black liquor menjadi energi listrik. Mereka bisa melakukannya dengan memanfaatkan recovery boiler terbesar di dunia yang dimilikinya.

Manfaat yang dirasakan begitu signifikan. APRIL Asia berhasil menekan pemakaian energi fosil hingga hanya tinggal 15 persen saja. Sisa energi lainnya mereka dapatkan dari energi ramah lingkungan terbarukan yang diproduksi sendiri.

Bukan hanya itu, APRIL malah sanggup membagikan energi listriknya kepada masyarakat. Pasalnya, ada sisa sekitar dua persen dari total energi yang dihasilkannya. APRIL Indonesia memilih untuk menyalurkannya ke masyarakat di sekitar perusahaannya.

MENDUKUNG MASYARAKAT LOKAL

Dalam mengelola hutan tanaman dengan konsep terbarukan, penekanan tidak hanya ke dalam manajemen area belaka. Dukungan kepada masyarakat di sekitarnya juga merupakan aspek penting.

Hal ini juga dilakukan oleh APRIL Indonesia. Sejalan dengan kebijakan SFMP, APRIL memperkuat upaya pengentasan kemiskinan di masyarakat pedesaan sekitar wilayah operasional melalui penciptaan lapangan kerja, menyediakan akses yang lebih baik ke pendidikan yang berkualitas, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan mata pencaharian di daerah pedesaan.

APRIL juga memanfaatkan kegiatan Corporate Social Responsibility untuk membina wirausahawan lokal. Pada akhirnya, jika memungkinkan, mereka juga menyertakan petani serta Usaha Kecil & Menengah ke dalam rantai pasokannya.

Wujud nyata dari langkah itu sangat banyak. Salah satunya penyediaan tanaman kehidupan bagi masyarakat, misalnya berupa bibit pohon karet yang disumbangkan oleh unit bisnis APRIL, PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP), untuk warga di Pulau Padang, Kabupaten Meranti, Riau.

Pada 2016, warga sudah mulai menikmati manfaatnya. “Program tanaman kehidupan ini sangat membawa manfaat bagi kami. Apalagi menjelang hari raya, ekonomi masyarakat secara umum sedang buruk, tapi berkat RAPP kami tetap bisa memperoleh hasilnya,” ujar Kepala Desa Tanjung Pandan, Abu Sufian, di Riau Terkini.

Selain memberi dukungan kepada masyarakat, APRIL Indonesia juga berkomitmen menghormati hak-hak masyarakat hukum adat dan komunitas. Mereka membuka diri dengan mengadakan dialog untuk mencari solusi terbaik di setiap permasalahan.

Beragam pendekatan itu ditunjang dengan pemanfaatan hutan tanaman secara maksimal oleh APRIL. Dalam mengelolanya, mereka memanfaatkan tim Research & Development untuk mendorong pencapaian hasil tanaman optimal.

Tim R&D APRIL Group melakukan rekayasa genetika untuk menghasilkan bibit terbaik. Mereka berupaya terus meningkatkan hasil produksi hutan tanaman dengan menemukan terobosan beragam cara perawatan pohon.

Pencapaian yang diraih patut dibanggakan. Sebagai contoh, pada 1996, setiap hektare area yang ditanami akasia hanya menghasilkan kayu sebanyak 22 meter kubik. Namun, per 2010, jumlahnya telah meningkat pesat menjadi 32 meter kubik dalam luas lahan yang sama.

Sementara itu, untuk memastikan suplai bahan baku terus ada, APRIL Group mengelola hutan tanaman sedemikian rupa. Mereka membagi-baginya dengan menyiapkan area yang siap dipanen dan yang siap ditanami ulang. Per tahun, APRIL Group tercatat sanggup menanam 200 juta pohon per tahun.

Tanaman akasia yang sudah ditanam memerlukan waktu sekitar lima hingga enam tahun sebelum dapat dipanen sebagai bahan baku pulp dan kertas. Pertumbuhan ini terhitung cepat karena di luar kawasan tropis, pertumbuhan akasia bisa membutuhkan waktu puluhan tahun sebelum bisa panen.

Operasi keseharian di dalam hutan tanaman milik APRIL Asia akhirnya membuka kesempatan kerja bagi banyak pihak. Banyak sekali lapangan kerja yang terbuka mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan, hingga masa memanen.

APRIL Group mempekerjakan lebih dari 9.000 pekerja perkebunan. Jumlah itu dapat bertambah hingga 13.000 selama periode panen. APRIL juga bekerja sama dengan para mitra dalam melakukan panen antara 80.000 sampai 90.000 hektare hutan tanaman per tahun.

Tak aneh, kapasitas produksi APRIL Indonesia terbilang besar. Per tahun, mereka mampu menghasilkan 2,8 juta ton plup. Sementara itu, untuk kertas, APRIL sanggup memproduksi hingga 1,15 juta ton setiap tahun.

Semua itu tidak bisa dilakukan tanpa keberadaan hutan tanaman industri yang dimilikinya. Dengan memegang konsep keberlanjutan dalam pengelolaannya, APRIL Group bisa memastikan bahan baku terus terjaga sembari tetap mempertahanan kelestarian alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *