Rabu , 17 Oktober 2018
Home / Investasi / Berdiri dengan Nama Raja Garuda Mas, Grup ini Tumbuh Besar Karena Belajar dari Kegagalan

Berdiri dengan Nama Raja Garuda Mas, Grup ini Tumbuh Besar Karena Belajar dari Kegagalan

Royal Golden Eagle (RGE) didirikan pada 1973 dengan nama Raja Garuda Mas. Mereka kini merupakan salah satu korporasi global yang menjadi kebanggaan Indonesia. Tidak akan ada yang menyangka bahwa kesuksesan mereka tak lepas dari beragam kegagalan.

Didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto, RGE merupakan korporasi yang menekuni berbagai jenis industri pemanfaatan sumber daya alam. Ketika pertama berdiri dengan nama awal Raja Garuda Mas, mereka menekuni bidang kayu lapis.

Namun, seiring waktu, ruang lingkup bisnis Royal Golden Eagle kian besar. Sekarang mereka ganti menggeluti industri kayu lapis, pulp dan kertas, pengembangan energi, selulosa special, hingga serat viscose.

Berkat itu, RGE bisa menjadi kebanggaan Indonesia. Bagaimana tidak, mereka memiliki aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan mencapai 60 ribu orang. Selain itu, mereka juga memiliki cabang dan anak perusahaan di berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Brasil, Kanada, dan Tiongkok.

Siapa pun tentu mengagumi kesuksesan Royal Golden Eagle. Awalnya hanya sebuah perusahaan skala lokal yang berbasis di Besitang, Sumatra Utara. Karyawannya belum mencapai puluhan ribu seperti sekarang, tapi hanya sekitar dua ribu orang. Namun, mereka bisa mengembangkan diri sedemikian pesat.

Di balik itu semua terdapat perjuangan keras yang dilakukan pengusaha Sukanto Tanoto beserta segenap pihak di RGE. Tidak akan ada yang menyangka bahwa mereka berjuang melewati beragam kegagalan sebelum sampai di posisi sekarang.

Banyak kisah kemampuan Royal Golden Eagle untuk bangkit sesudah mengalami kegagalan. Hal itu sudah diperlihatkan sejak pertama kali berdiri dengan nama Raja Garuda Mas.

Kala itu, RGE menekuni industri kayu lapis. Pabriknya dibuka pada 1975, namun hambatan besar dialami. Enam bulan sesudah dibuka, Raja Garuda Mas tidak mampu memenuhi target kapasitas produksi untuk menghasilkan delapan ribu panel per hari.

​Gagal menggapai target tidak membuat Sukanto Tanoto panik. Ia sadar bahwa dirinya yang kala itu baru berumur 24 tahun memang membutuhkan pembelajaran. Pasalnya, dulu sebelum mendirikan Raja Garuda Mas, ia berperan sebagai penyuplai dalam bisnis general contractor & supplier bidang perminyakan. Tapi, kini ia harus bertindak sebagai produser.

Dengan tetap tenang, Sukanto Tanoto berusaha mencari solusi. Akhirnya ia menemukan bahwa timnya kurang berpengalaman. Ini membuatnya segera bergerak cepat. Sukanto Tanoto memutuskan merekrut tim manajemen asal Taiwan yang sudah berpengalaman.

Apa yang dihasilkan? Perubahan besar terjadi. Dengan tim dan alat yang sama, kapasitas produksi kayu lapis Raja Garuda Mas meningkat drastis. Per hari mereka akhirnya mampu menghasilkan 12.000 panel, melonjak empat ribu di atas target yang sebelumnya tidak sanggup digapai.

Kegagalan memang bukan halangan bagi Sukanto Tanoto untuk terus melanjutkan bisnisnya. Dulu ketika masih menekuni usaha general contractor & supplier, ia pernah pula merasakan hambatan besar.

Salah satunya saat nyaris gagal memenuhi tenggat waktu penyelesaian pekerjaaan pembuatan jalan di Lhokseumawe di Aceh pada 1970. Medan yang masih hutan dan berbukit-bukit membuat proyek jalan sepanjang 18 kilometer yang dilakukannya terhambat. Perkembangan pekerjaaan lambat sehingga rawan terlambat dari jadwal. Kalau itu terjadi, kerugian besar bakal dialami.

Melihat hal tersebut, Sukanto Tanoto segera bergerak. Ia tidak mau meratapi kegagalannya. Dirinya justru memilih langsung melihat keadaan dan mencari solusi. Akhirnya pria kelahiran 25 Desember 1949 ini memilih merekrut tim manajemen berpengalaman dari luar negeri.

​Langkah tersebut terbukti jitu. Pekerjaaan berjalan jauh lebih cepat. Alhasil, proyeknya justru selesai sebelum tenggat waktu tiba.

SARANA PEMBELAJARAN

Kesuksesan Royal Golden Eagle memang dikagumi berbagai pihak. Mereka bisa besar dengan manajemen yang solid seperti sekarang. Ada salah satu kunci sukses yang dapat ditiru oleh siapa saja jika ingin berhasil. RGE selalu pantang menyerah dan menjadikan kegagalan sebagai sarana pembelajaran.

Salah satu contoh nyata pernah dialami ketika hendak merintis bisnis di bidang pulp dan kertas. Pada 1980, grup dengan nama awal Raja Garuda Mas ini mendirikan pabriknya di Sumatra Utara.

Bagi Sukanto Tanoto, ini merupakan langkah yang besar. Investasi tinggi ia kucurkan. “Untuk pertama kali, saya melakukan investasi sebesar ini,” ujarnya seperti dikutip dari Finance Asia.

Tentu saja harapan besar membubung tinggi. Namun kadang keinginan tidak sesuai kenyataan. Belum berpengalaman mengolah limbah membuat perusahaannya dilarang beroperasi. Tantangan berat datang karena pada akhirnya perusahaan sempat ditutup.

Akan tetapi, bukan spirit RGE jika mudah menyerah. Kesulitan yang mereka hadapi di Sumatera Utara tidak mengendurkan niat untuk menggeluti industri pulp dan kertas. Royal Golden Eagle tetap mendirikan pabrik lain di Riau.

Kegagalan yang dialami di Riau malah dijadikannya sarana pembelajaran. Ia menggunakannya sebagai dasar untuk membangun pabrik baru yang lebih baik. “Kesalahan di Sumatera Utara, saya jadikan bahan pelajaran untuk di sini,” kisah Sukanto Tanoto.

Keteguhan hatinya itu berbuah manis. Anak perusahaan RGE yang bergerak di industri pulp dan kertas dengan nama Grup APRIL mampu berkembang. Mereka kini menjadi salah satu pemain penting dalam bidang tersebut di Asia.

Hal itu sangat beralasan jika melihat kapasitas produksi yang dihasilkan. Per tahun APRIL sanggup memproduksi pulp sebanyak 2,8 juta ton. Sedangkan untuk kertas, mereka mampu menghasilkan 850 ribu ton dalam jangka waktu yang sama.

Mereka juga memiliki produk yang bisa menjadi kebanggaan Indonesia. APRIL mempunyai merek kertas premium, PaperOne, yang sudah menembus pasar internasional. PaperOne kini sudah dijual dan didistribusikan di 70 negara.

Bahkan, orientasi pasar mereka  adalah internasional. Sebagian besar produk PaperOne dialokasikan untuk asing mulai dari kawasan Timur Tengah, Eropa, serta di Benua Amerika.

Keberhasilan itu merupakan bukti mentalitas unik yang ada di dalam tubuh Royal Golden Eagle. Untuk berhasil seperti sekarang, mereka jatuh bangun terlebih dahulu. Kegagalan demi kegagalan dialami. Namun, hal itu tidak membuat grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini tidak pernah menyerah.

Mentalitas pendirinya, Sukanto Tanoto, menjadi kunci. Ia tidak mudah menyerah terhadap kegagalan. Sebaliknya, pria kelahiran 25 Desember 1949 ini selalu mau bangkit sesakit apa pun kejatuhan yang ia alami.

“Beragam kegagalan itu yang paling diingat. Namun, dari sekian banyak kejadian itulah, saya mendapat pelajaran paling besar,” ujarnya dalam menyikapi kesulitan.

Berkat kegagalan pula Sukanto Tanoto jadi tahu banyak dalam pengelolaan perusahaan sebesar Royal Golden Eagle. Sebagai contoh, ia sadar arti penting manajemen yang baik dan perekrutan karyawan berkualitas.

Selain itu, Chairman RGE ini tahu persis betapa krusial untuk berada di lokasi pekerjaan sehari-hari. Tak aneh, jajaran manajemen perusahaannya selalu tinggal di lokasi pabrik meski itu tempat terpencil.

Akan tetapi, semua itu memang bermanfaat. Kegagalan justru menjadikan Raja Garuda Mas lebih matang hingga akhirnya besar dan bertransformasi menjadi RGE seperti sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *