Minggu , 22 April 2018
Home / Advertorial / Sukanto Tanoto Menjadikan Sumber Daya Bisa Terbarukan

Sukanto Tanoto Menjadikan Sumber Daya Bisa Terbarukan

Julukan yang melekat ke pengusaha Sukanto Tanoto cukup mentereng. Ia disebut sebagai Raja Sumber Daya. Sebutan itu diperolehnya berkat kesuksesannya dalam mengembangkan Royal Golden Eagle (RGE) menjadi korporasi kelas internasional.

Hal itu sebenarnya tidak berlebihan. Sukanto Tanoto memang mampu membuat RGE berkembang pesat. Dari sebuah perusahaan lokal, kini RGE merupakan korporasi global dengan aset 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan mencapai sekitar 60 ribu orang.

Namun, sebutan yang disandang oleh Sukanto Tanoto tak semata berasal dari keberhasilannya membesarkan RGE. Di balik itu ada penghargaan terhadap pria kelahiran 25 Desember 1949 tersebut karena sukses menciptakan sistem perusahaan sumber daya yang berbasis konsep terbarukan.

Harus diakui, selama ini sering ada stigma negatif tentang perusahaan sumber daya. Mereka dianggap hanya mengeksploitasi alam tanpa mau memperhatikan kelestariannya. Padahal, tidak semua seperti itu.

Salah satu contohnya adalah RGE yang didirikan oleh Sukanto Tanoto. Mereka mampu memanfaatkan sumber daya menjadi produk bermanfaat dengan menjalankan konsep terbarukan. Ini bahkan sudah menjadi keseharian bagi korporasi yang berdiri pada 1973 tersebut.

Saat ini, RGE memiliki beragam bidang bisnis. Mereka mempunyai anak-anak perusahaan yang bergerak dalam industri kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, viscose fibre, serta pengembangan energi.

Bidang industri yang digeluti boleh beragam. Tapi, selalu ada kesamaan dalam pelaksanaan operasional perusahaan. Semuanya mendasarkan kegiatan terhadap semangat keberlanjutan. Oleh karena itu, perusahan-perusahaan Sukanto Tanoto selalu memanfaatkan sumber daya alam sembari memperbaruinya.

Apa saja yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto agar RGE selalu mampu memanfaatkan sumber daya dengan langgeng? Berikut ini beberapa di antaranya.

MEMBUAT SUMBER BAHAN BAKU

Langkah mendasar agar sumber daya selalu bisa terbarui ialah membuat sendiri. Ini wajib dilakukan supaya bahan baku tidak mendasarkan kepada alam semata. Kalau itu terjadi akan sangat riskan untuk kelangsungan bisnis karena hasil dari alam bisa habis.

Wujud nyata yang dilakukan oleh RGE misalnya dengan membuat perkebunan sendiri. Ini dilakukan oleh perusahaan Sukanto Tanoto yang bergerak dalam industri kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, dan serat viscose.

            Asian Agri misalnya. Untuk menghasilkan minyak kelapa sawit, mereka membuat perkebunan untuk mendapatkan bahan baku. Perusahaan Sukanto Tanoto ini sekarang mengelola lahan perkebunan seluas 160 ribu hektare. Dalam pengelolaan, dari luas lahan itu, sekitar 60 ribu hektare diberikan kepada para petani plasma.

Sebagai tambahan, Asian Agri juga menjalin kerja sama dengan para petani swadaya. Ada sekitar 30 ribu petani swadaya yang diajak bekerja sama.

Anak perusahaan RGE lainnya, Grup APRIL, juga melakukan langkah serupa. Produsen pulp dan kertas terkemuka di dunia ini membuat perkebunan akasia untuk menyuplai bahan baku.

Sampai sekarang, APRIL melalui unit bisnisnya, PT Riau Andalan Pulp & Paper, mengelola lahan perkebunan seluas 481.466 hektare. Selain itu, mereka menjalin kerja sama dengan 40 mitra pemasok jangka panjang sebagai jalan untuk mendapatkan bahan baku. Berkat itu, sekitar 79 persen kebutuhan fiber APRIL telah terpenuhi.

Memiliki perkebunan sebagai sumber bahan baku seperti itu membuat RGE tidak merusak alam. Sebagai contoh, untuk mendapatkan kayu yang menjadi bahan baku, mereka tidak memotong dari hutan. Akibatnya kelestarian hutan terus terjaga.

 

PENGELOLAAN BERBASIS KEBERLANJUTAN

Kunci kedua kesuksesan Sukanto Tanoto dalam membesarkan RGE berkaitan dengan keberhasilan untuk terus-menerus mendapatkan bahan baku. Ia mau bersusah payah mengelola sumber bahan baku dengan konsep keberlanjutan.

Ambil contoh dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang dilakukan oleh Asian Agri. Perusahaan Sukanto Tanoto ini tidak melakukan pembakaran dalam pembukaan lahan. Mereka pun menjalankan perkebunan dengan konsep keberlanjutan.

Hal ini membuat Asian Agri mampu menjadi anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Pencapaian ini membuktikan bahwa produk kelapa sawit yang dihasilkan berasal dari proses ramah lingkungan.

MEMANFAATKAN SAINS

Salah satu tantangan besar yang dihadapi dalam perusahaan sumber daya ialah memastikan bahan baku cukup untuk mengikuti tuntutan kenaikan produksi. Sukanto Tanoto menyadari sejak lama. Maka, ia pun sudah berpikir panjang untuk melakukan langkah antisipasi.

Sukanto Tanoto memilih untuk merangkul pendekatan ilmiah. Ia sudah melakukannya sejak pertama kali merintis bisnis yang digelutinya. Salah satu contohnya ialah langkah yang dilakukan ketika memustuskan untuk membangun pabrik pulp dan kertas.

Kala itu, Sukanto Tanoto tahu persis bahwa Brasil memiliki basis industri pulp dan kertas yang baik. Kebetulan iklim dan kondisi Brasil mirip dengan Indonesia. Keduanya sama-sama memiliki wilayah tropis. Atas dasar ini, Sukanto Tanoto segera bertolak ke sana dan mengirimkan tim untuk belajar seluk-beluk perkebunan.

“Saya pergi ke Brasil untuk mempelajari teknologinya karena mereka pintar dalam menumbuhkan pohon dan punya cara spesial dalam pemanfaatan pulp,” ujar pria kelahiran Belawan tersebut.

APRIL akhirnya meneruskan tradisi yang dijalankan oleh Sukanto Tanoto. Mereka sering mengirimkan karyawannya untuk mempelajari teknologi perkebunan terbaru.

Salah satu yang merasakannya adalah Kristine yang kini sebagai bekerja sebagai Manager Incharge di Kerinci Central Nursery 2. Pada 2016, ia dikirim ke Brasil untuk belajar tentang pembibitan. Sepulangnya dari sana, ia merasa mendapat ilmu yang berharga.

“Itu adalah perjalanan yang luar biasa. Sejak saya mengunjungi Brasil, pandangan saya tentang kehutanan sekarang menjadi lebih luas. Ada banyak perbaikan yang bisa kita lakukan. Ada banyak inovasi yang bisa kita lakukan di sini,” kata Kristine di Tribun Pekanbaru.

Pemanfaatan sains akhirnya memang terbukti meningkatkan produksi. Sebagai gambaran, pada 1996, setiap hektare perkebunan akasia APRIL hanya menghasilkan 22 meter kubik kayu. Namun, berkat riset terus-menerus, APRIL bisa mendongkrak produksinya menjadi 32 meter kubik pada 2010. Bahkan, mereka mengejar target menjadi 35 meter kubik pada 2020.

MENGANDENG MASYARAKAT SEBAGAI MITRA

RGE memang telah berusaha memenuhi kebutuhan bahan baku dengan membuat sumber sendiri. Namun, sebagai antisipasi, kemitraan dengan masyarakat juga diperlukan.

Langkah ini memiliki tujuan menambah pasokan bahan baku. Mengajak masyarakat sebagai mitra akan menambah stok bahan baku. Akibatnya, ancaman kekurangan suplai akan diminimalkan.

Asian Agri melakukannya dengan baik dalam sistem kemitraan. Mereka mempelopori model kerja sama plasma inti perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Hingga kini, sistem itu masih terus dijalankan. Bahkan, 60 ribu hektare lahan perkebunan perusahaan Sukanto Tanoto itu dijalankan oleh petani plasma.

Selain itu, Asian Agri masih menjalin kerja sama dengan para petani kecil yang disebut petani swadaya. Total ada sekitar 30 ribu petani yang bekerja sama dengan mereka. Akibatnya kebutuhan bahan baku mereka terbilang aman.

Hal ini juga memberikan keuntungan tersendiri. RGE mampu menghadirkan kesejahteraan bagi para petani baik petani plasma maupun petani swadaya.

Inilah langkah yang diambil Sukanto Tanoto dalam memastikan sumber daya untuk RGE tetap terbarukan. Terobosan-terobosan ini akhirnya sanggup membuat RGE besar seperti sekarang.

 

 

Check Also

Menilik Tahap Perkembangan Kamera GoPro

  TasikGate.com – Go Pro merupakan salah satu merek kamera yang diproduksi oleh produsen asal ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *